Legenda Rawa Pening
Orang Indonesia jaman dulu sangatlah bijak. Mereka menurunkan kisah moral penting melalui sebuah cerita.
Sebelum membaca kisah yang sangat bijak di bawah ini, mohon luangkan juga sedikit waktu untuk menandatangani sebuah petisi untuk menolak kejahatan yang sedang terjadi di Tiongkok.
Kita percaya bahwa meski itu sebuah kebaikan kecil, ia tidak akan luput dari catatan Yang Maha Kuasa.
Rawa Pening merupakan danau yang terletak di kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Rawa Pening memiliki cerita yang sangat populer di kalangan rakyat Jawa Tengah, yang sangat relevan dengan masyarakat jaman sekarang yang mengalami pagebluk.
Kisah Rawa Pening ini sangat mendalam dan memiliki pesan yang penting bagi generasi mendatang. Mari kita baca sejenak tentang asal mula terbentuknya rawa pening.
Dahulu kala terdapat sebuah desa yang sangat makmur bernama Desa Pathok. Sayangnya, penduduk di desa tersebut memiliki hati yang sangat sombong dan angkuh.
Pada suatu hari, penduduk desa Pathok ingin mengadakan suatu pesta merti dusun (bersih desa), yaitu pesta bumi setelah panen.
Dalam pesta tersebut akan digelar berbagai seni, tarian dan hidangan yang lezat untuk menjamu para tamu. Maka dari itu penduduk berbondong-bondong berburu binatang di dalam Bukit Tugur.
Setelah hampir seharian berburu, tetapi penduduk Pathok belum menemukan binatang untuk di tangkap. Dengan tangan kosong mereka memutuskan untuk kembali ke desa. Namun di tengah perjalanan mereka melihat seekor naga sedang bertapa. Naga tersebut adalah Baru Klinting.
Penduduk beramai-ramai menangkap, memotong dan membawa pulang daging naga tersebut. Dan dijadikannya hidangan utama di perjamuan makan pesta merti dusun.
Disaat para penduduk sedang menikmati pesta. Tak disangka datang seorang anak laki-laki yang memiliki tubuh penuh luka dan kelaparan. Yang ternyata anak ini adalah jelmaan dari Naga Baru Klinting. Anak laki-laki ini (Baru Klinting) meminta sedekah makan kepada penduduk, namun tak seorangpun memberi makan kepadanya, sebaliknya malah mencaci-maki dan mengusirnya pergi dari pesta.
Sungguh tega penduduk Phatok kepada Baru Klinting. Dengan perut kelaparan Baru Klinting pergi berjalan untuk meminta makan kembali. Ditengah perjalanan Baru Klinting bertemu dengan seorang janda tua yang bernama Nyi Latung.
Nyi Lantung berbaik hati dan merasa perihatin dengan keadaan Baru Klinting, lalu dengan hati yang tulus Nyi Lantung mengajaknya ke rumah dan menawarkan makanan untuknya.
Setelah memakan makanan dari Nyi Lantung. Baru Klinting merasa lebih baik dan berterimakasih atas pertolongan dari Nyi Lantung.
“Terimakasih nek, disaat seperti ini ternyata masih ada warga yang memiliki hati baik di desa ini” ucap Baru Klinting.
“Iya, cucuku. Memang warga disini memiliki hati yang angkuh dan sombong. Bahkan mereka pun akan melakukan hal yang sama terhadap nenek” jawab Nyi Lantung.
“Jika begitu, mereka harus di beri pelajaran atas perbuatan yang mereka lakukan!”
Kemudian, Baru klinting menitipkan pesan penting kepadan Nyi Lantung
“Jika nenek mendengar suara gemuruh, siapkan lesung kayu secepatnya”
Lalu, Baru Klinting beranjak dari rumah Nyi Lantung dan kembali ke pesta dengan membawa sebatang lidi. Sesampainya disana, dia pun menancapkan lidi itu di tanah yang disaksikan oleh semua penduduk Pathok.
“Wahai semua penduduk Pathok! Jika kalian merasa hebat cobalah cabut lidi yang ku tancapkan ini” tantang Baru Klinting.
Karena merasa diremehkan, semua warga datang berdamai-ramai untuk mencabut lidi itu. Mulai dari anak kecil, mereka mencoba untuk mencabut lidi namun tidak berhasil. Kemudian para kaum pria yang dianggap kuat, satu persatu mencoba. Herannya, tak satupun yang berhasil.
Sampai akhirnya semua penduduk menyerah. Kemudian Baru Klinting segera mencabut lidi itu. Dengan mudahnya lidi itupun tercabut. Sesaat kemudian terdengarlah suara gemuruh, lalu air pun keluar dari bekas tancapkan lidi itu. Air keluar sangat kencang dan deras seperti air bah, sehingga menyebabkan semua penduduk dan seisi desa tenggelam di dalamnya.
Desa Pathok pun, berubah menjadi Rawa, yang sekarang dikenal sebagai Rawa Pening.
Sementara itu, Nyi Latung dapat berhasil selamat dari air bah tersebut, karena menaiki lesung kayu yang berguna sebagai perahu.
Dalam berbagai kisah kebudayaan, baik itu di barat maupun di timur. Terdapat berbagai kisah serupa mengenai banjir besar yang menenggelamkan seisi desa.
Kisah-kisah tersebut memberi kita pelajaran bahwa. Perbuatan jahat akan mendapat hukuman dan perbuatan baik mendapat hasil yang baik dan selamat dari bencana.
udh tau sih, cerita² di atas. yg legenda… tpi tetep suka ni bacanya.. tlg update cerita lain y thor..