Kisah Seorang Petapa Yang Pernah Menjadi Binatang
Hidup penuh dengan misteri. Dengan mengungkap misteri, manusia bisa lebih menghargai betapa berharganya hidup ini.
Sebelum membaca kisah tentang petapa yang pernah menjadi binatang di bawah ini, mohon luangkan juga sedikit waktu untuk menandatangani sebuah petisi untuk menolak kejahatan yang sedang terjadi di Tiongkok.
Kita percaya bahwa meski itu sebuah kebaikan kecil, ia tidak akan luput dari catatan Yang Maha Kuasa.

Di sebuah kuil hiduplah seorang petapa bersama para muridnya. Suatu ketika mereka pergi untuk meminta sedekah makan di daerah pemukiman warga. Di perjalanan petapa dan para muridnya melihat ternak warga yaitu seekor babi. Kemudian petapa tersebut tiba-tiba menangis saat melihat babi tersebut.
Seorang murid terkejut dan menanyakan kepada petapa itu, “Guru apa yang terjadi, mengapa Guru menangis?”
Petapa berkata “Di kehidupan saya yang dahulu, saya adalah seekor babi”. Sontak pernyataan petapa membuat para murid terkejut. Ternyata petapa telah tersadar dan dapat mengetahui kehidupan di masa lalunya.
Petapa pun menceritakan hal apa saja yang ia ketahui dan rasakan kepada para muridnya. “Hidup sebagai hewan, terutama babi sangatlah menderita, walaupun terlihat hanya makan dan tidur, namun banyak penderitaan yang babi alami setelah meninggal.
Pada saat saya akan dipotong untuk diambil daging, saya merasakan sakit yang teramat sangat, karena pisau menyayat di seluruh tubuh saya.
Lalu saat saya sudah meninggal dan saat daging saya dimasak di api dan minyak yang panas, saya masih merasakan panasnya di sekujur tubuh saya. Jika daging saya dijemur, saya tetap merasakan panasnya terik matahari.
Hingga daging saya dimakan dan masuk ke tubuh manusia, maka saya akan merasa siksaan ini berakhir dan hati menjadi lega”.
Para murid merasa sedih akan kisah petapa. Dan petapa menjelaskan, “Kita sebagai makhluk hidup yang terlahir ke bumi ini tentu harus mengalami penderitaan, semua akibat dari perbuatan yang telah kita lakukan, itulah siklus karma.
Semua kesengsaraan saya, diakibatkan oleh hal buruk yang pernah saya lakukan. Namun saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk membayarnya di kehidupan lalu.
Di kehidupan ini saya terlahir sebagai manusia, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Pencipta kepada saya. Dengan berbuat kebaikan dan dapat sabar saat mengalami cobaan, saya dapat membayar hutang-hutang karma saya”.
Semua murid termenung dan menyadari betapa berharganya hidup ini. Terkadang kita kesal dan marah pada saat dihadapi dengan ujian berat.
Namun Sang Pencipta mengatur semua hal yang terbaik untuk kita. Pada saat kita bersabar dan telah menyadari suatu kekurangan kita atau perbuatan yang telah kita lakukan, ujian hidup akan berbalik menjadi lebih ringan dan kita dapat melewatinya. (thebrightlot.us/yuli/wd)