Legenda Prambanan: Jalan Pintas, Tipu Daya, dan Akibatnya
Sebelum membaca kisah nusantara yang sangat bijak ini, mohon luangkan sedikit waktu untuk berbuat kebaikan dengan menandatangani sebuah petisi untuk menolak kejahatan yang sedang terjadi di Tiongkok.
Kebaikan Anda sangat berharga. Sang Pencipta mencatat setiap kebaikan manusia.
Di tengah hamparan tanah subur yang dipayungi langit biru lembut, berdirilah Kerajaan Prambanan—sebuah negeri makmur yang kemegahan

candinya menjulang seperti simbol kebesaran dan rahasia masa lalu. Setiap sudut istana dan menaranya bagaikan Saksi bisu atas kekuatan dan kebijaksanaan Sang Raja, Prabu Baka, seorang pemimpin berwibawa.
Roro Jonggrang, sang putri tunggal, tumbuh dalam bayang-bayang kekuasaan dan harapan besar. Parasnya elok menyaingi fajar. Ia dikenal karena kecakapan berpikir dan sikap lembut yang membuatnya dihormati sekaligus dijaga.
Namun kebahagiaan mereka tak bertahan lama; Suatu hari datanglah Bandung Bondowoso, pemimpin kerajaan tetangga yang kuat, dan menduduki Prambanan. Prabu Baka gugur di tangan sang penakluk.
Terpikat akan paras dan keanggunan Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso kemudian melamarnya. Putri cerdas ini tidak ingin menerima lamaran dari orang yang telah membunuh ayahnya, tetapi ia juga sadar menolak terang-terangan bisa berakhir buruk bagi rakyatnya.
Maka ia mengajukan syarat yang sangat berat: membangun seribu candi dalam satu malam.

Bandung Bondowoso, merasa dirinya bisa mengalahkan segala tantangan, memanggil pasukan jin untuk menyelesaikan tugas itu. Malam berlalu, dan candi berdiri satu demi satu—kerja keras makhluk gaib yang tak kenal lelah. Melihat syarat yang hampir terpenuhi, Roro Jonggrang meminta para wanita desa untuk menumbuk padi, membakar jerami, dan membangunkan ayam agar jin-jin mengira pagi telah tiba.
Begitulah, para jin pun ketakutan, meninggalkan pekerjaan sebelum waktunya. Hanya satu candi yang kurang untuk mencapai seribu. Geram Bandung Bondowoso, menyadari dirinya sudah ditipu. Dengan murka, ia mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca batu sebagai pelengkap candi yang terakhir.
Sejak saat itu, arca Roro Jonggrang berdiri di antara ribuan candi.
Apa pesan moral dari cerita ini?
• Jangan Menipu meski Demi Kebaikan: Kelicikan, meski terasa mengasyikkan, biasanya hanya berakhir buruk. Kejujuran, meski terkadang getir, selalu terasa damai di ujung cerita.
• Jangan Memaksakan Cinta atau Kekuasaan: Apa gunanya cinta tanpa kerelaan? Cinta sejati tumbuh di tanah kepercayaan dan penghormatan, bukan di atas kemenangan perang.
• Kekuatan Supernatural Tidak Bisa Dijadikan Jalan Pintas: Bandung Bondowoso ingin membangun candi dengan bantuan jin, untuk tujuan pribadinya.
Menggunakan hal supernatural untuk melawan alam, hanya akan membawa bencana. Hasil terbaik adalah hasil usaha sendiri, bukan dari kekuatan ghaib yang merusak keseimbangan alam.
• Makna Luhur Nusantara: Nilai-nilai luhur tanah air kita sederhana: kebaikan, kejujuran, serta mencapai sesuatu dengan jalan yang benar dan terhormat. Bukan dengan tipu daya, bukan pula mengandalkan hal-hal gaib yang memutarbalikkan kodrat alam.
• Mengendalikan Amarah dan Dendam: Lihatlah, kemarahan Bandung Bondowoso mengubah orang lain menjadi batu. Dendam dan kemarahan yang dipertahankan hanya akan membuat hidup sendiri membeku seperti batu.
Jika kelak berjalan di antara candi-candi megah Prambanan, sarang legenda ini: Gunakan akal dan hati untuk kebaikan. Jangan menumpuk kenangan demi kemenangan, dan jangan menggunakan jalan pintas demi sebuah tujuan. Di Nusantara, kejujuran dan usaha yang baik adalah warisan paling mulia yang harus kita lestarikan. (wd)
tegakkan keadilan dan kebenaran di seluruh penjuru bumi…..mari bersama sama kita perjuangkan tegaknya kebenaran dan keadilan.
kejujuran membawa kedamaian
dimana Bandung Bondowoso memperoleh kekuatan jin jin tersebut…. apakah wajahnya tidak ganteng sehingga Roro Jonggrang tidak melihat ketulusan si Bandung Bondowoso
Justice for all human inthe world
makhluk jin juga mengalami evolusi pemikiran.. mengenal dan menyadari kemajuan.terbukti di jaman roro jonggrang..kaum Jin itu masih bodoh karena bisa ditipu dengan suara lesung dan sinar dari pembakaran jerami.
tetspi kalo sekarang berbeda lagi karena bahkan seran libur dari menyesatkan manusia.karena manusia sudah lebih sesat dari setan dan jin